Ehem ehem.. Suara notifikasi Pesan WA masuk, seketika Enji membuka Hp android yang sedari tadi diam membisu, terlihat ada nomor tak dikenal mengirimkan pesan "save ya, Hilda " pertama diread doang tapi kayaknya penasaran siapa tau dia temen Mahe dulu yang belum sempat kesimpen, Karena dirasa asing mulailah Enji tanya ke Hilda tadi darimanakah ia mendapatkan nomornya, secara tiba-tiba dia bilang dapet dari Story WA temenya yang dianggap menarik, sehingga Hilda menyimpan nomor Enji yang Hilda anggap menarik, akhirnya mereka berkenalan satu sama lain, mulai dari memperkenalkan asal rumah, pernah sekolah dimana dan lulus tahun berapa, dan ternyata antara Hilda dan Enji sama-sama lulus di tahun 2019.
Tepat pukul 22:30 waktu indonesia bagian barat udara dingin mulai terasa memasuki ruangan tengah Enji yang malam itu adalah malam minggu, tapi mahe masih saja belum memejamkan matanya, sebab layar hp miliknya penuh dengan notifikasi grup WA yang ramai sekali bunyinya, akan tetapi bukan karena grup WA melainkan si Hilda yang meminta Mahe bercerita tentang pengalaman hidupnya di pesantren dulu yang jarang didengar Hilda, Nah setelah mendengar cerita dari Enji lalu dia bilang "aku nggak bisa memulai topik pembicaraan cobalah kau lempar untuk memulai pembicaraan" Hilda mulai bersuara, Tak lama kemudian Hilda bertanya tentang agama karena baginya agama itu sesuatu yang yang perlu dikaji bukan langsung diterima apalagi saklek ikutan, yang kemudian di Jawablah pertanyaan Hilda dengan cepat dan ringkas atas apa yang dia tanyakan, tak disangka-sangka Jam menunjukkan pukul 12 malam atau lebih tepatnya 00 waktu Indonesia bagian barat pembicaraan itu berhenti, Hilda mengucapkan terima kasih karena sudah ditemani mengobrol di malam minggunya bersama orang asing yang baru pertama Kalinya dia kenal.
Di Pagi hari nan cerah sinar mentari silau jika dipandang walaupun dibalik kaca sekalipun tebal 5 cm tetaplah menyilaukan namun bukan karena sinar mentari yang menyilaukan mata melainkan layar Hp mired yang sangat cerah pencahayaannya ditambah pesan WA dari Hilda yang belum Enji baca karena semalam ia langsung tidur setelah dirasa ngantuk tak tertahankan lagi, kemudian disela-sela kesibukan Enji masih menyempatkan membalas WA dari Hilda seperti "selamat pagi " "pagi" "udah makan belum?" "belum" dan mulailah balas membalas pesan sampai ada kesibukan lain yang mengakhiri percakapan lewat WA pagi itu.
Setiap Hilda update story WA pasti Isinya tentang curahan hatinya yang sepi gundah gulana sebab tiada kekasih dihatinya (aih puitis sekali) yang tak luput dari pengamatan Enji dalam daftar penonton SW (Story What'sApp) milik Hilda, yang di dalam pesan statusnya itu dia membuka ruang curhat bagi siapa pun yang mau bercerita tentang apapun pasti dia dengarkan dan ditanggepi bila butuh solusi dia pasti membantu menyelesaikan ya mirip-mirip orang magang konsultan psikologi soalnya dia ngga gratis menerima curhatan but pasang tarif kek open BO gitu, harga terjangkau mulai dari 5k sampai 50k tapi dia tidak menerima VCS (hadeh kenapa Open Curhat kalo ngga nrima panggilan video kan sayang) nah setelah dia mempromosikan Dirinya sebagai pendengar yang baik tapi bertarif dia pun mau gak mau harus siap dengan para lelaki gabut yang butuh hiburan yang jelas dia disangka open BO dan benar saja hal itu terjadi lantas dia seketika memblokir nomor yang tidak dia kenal, yang kata dia orang tak menarik langsung blokir saja, hingga pada hari ketiga setelah perkenalan pas malam minggu kala itu, pesan yang dilemparkan bernada gombalan pun diketik lancar oleh kedua belah pihak tawa bisa dilihat dari emoticon yang nampak terpingkal-pingkal (baca:ngakak) sebab lucu sekali Enji ini membagikan kisah cintanya yang kandas ditelan perasaan tidak enak melawan kakak tingkatnya yang jauh lebih tinggi nan ganteng bin pandai menggambar dan mengaji, ya daripada ditolak mendingan mundur sajalah,
Enji benar-benar menyerah oleh sebab itu dia mendapatkan pujian dari Hilda bahwa Enji laki-laki yang ganteng sebenarnya asal Enji membersamai dengan kelakuan yang baik tentunya, tak lupa rajin membaca gemar belajar apapun ilmunya asal tidak ilmu sihir yang menyesatkan.
Usut punya usut Hilda punya teman lain yang dulu pernah satu sekolah di SMP N2 Purbolinggo dan sampai sekarang masih berteman akrab bagaikan adik kakak yang setia saling mendengarkan keluh kesah diantara mereka bertiga sebut saja Hilda, Umar, dan Helina yang kata Helina diantara mereka sudah membentuk Circle yang kecil yang hanya mereka bertiga isinya, sebab Hilda katanya itu memiliki kekurangan sejak lahir yang sangat disayangkan dibalik paras yang cantik laksana artis papan atas model hijab ternama, sebut saja Rabbana, Doir, Dudeil, dan lain-lain.
Ternyata eh ternyata dia seorang tuna wicara yang itu sangat menyentuh hati Enji yang melihat bahwa tidak ada manusia yang sempurna dan kesempurnaan hanya milik Tuhan semata kata Umar teman Hilda yang sudah dianggap kakaknya Hilda, setelah mendengar berita tuna wicaranya Hilda derai tangis membasahi pipi Enji yang jarang meneteskan air mata semenjak Enji masuk SMA sampai akhirnya nangis lagi karena terenyuh melihat semangat Hilda yang seorang Tuna Wicara tetap memiliki mimpi yang besar seperti masuk dan itu menjadi alasan dia tidak melanjutkan Kuliah walaupun telah lulus SBM-PTN sekalipun nilainya sangat memuaskan tapi tetap dia tak melanjutkannya yang yang dibalik penolakan itu Hilda menyimpan kesedihannya dengan terdiam menangis seolah menyalahkan Kehendak Tuhan tapi ia sadar bahwa kesempurnaan berawal dari pikiran oleh karenanya Hilda tidak pernah mengganti motto hidupnya " Everything is Perfect "
Begitulah tegarnya keyakinannya akan tetapi dia masih seorang manusia yang tak luput dari mengeluh dan bersedih bahkan menyerah tapi Hilda punya semangat untuk bangkit dari kekurangannya, jelas Umar kepada Enji.
Setelah sekian kali menolak VCS yang dilakukan Hilda sebelumnya kepada setiap orang yang tidak penting baginya, tapi kali inj berbeda yang pada hari sebelumnya mereka berdua sudah janjian hendak berjumpa temu kenalan bertatap muka seketika degup jantung berdetak hebat wajah memerah tangan gemetar, Lidah kelu sedetik jari ragu menyentuh layar, sebab Tiba-tiba sekali Hilda minta Vc namun keinginan melihat wajah Hilda secara langsung mengalahkan semua itu klik sudah muncul sesosok manusia yang sepertinya sudah ditemui sebelumnya rambut yang gondrong,
Raut Muka yang manis bila tersenyum tapi penuh wibawa dan perut yang tidak buncit serta tidak memakai baju tapi sayang lagi kecewa dia bukan Hilda yang dikenal Enji Via WA dengan DP yang sangat cantik wajahnya melainkan seorang Pria umur 19 tahun yang sedang duduk sila memakai sarung tanpa baju Umar namanya.
Danc* kata Enji dalam panggilan videonya dan gelap tawa Umar mengisi ruang video layar hapenya, mau dikata apapun yang namanya kena tipu yang biasa disebut Prank tetaplah menyakitkan sesaat dan tawa karena melihat diri pribadi yang tidak kritis terhadap segala informasi yang datang pada diri sendiri yang langsung percaya aja gitu tanpa saring terlebih dahulu, namun nun jauh di hati Enji merasa sedih sebab ia merasa itu semua seperti nyata adanya tapi indah dalam khayalan semata bertemu dan bercerita serta siap bersama walaupun Hilda seorang tuna wicara kalo memang nyata ada di dunia nyata.
Bila ada sumur di ladang
bolehlah kita menumpang mandi
Bila ada cerita datang
Boleh sangat kita tulis lagi
proses Ta'aruf haiyahiya
BalasHapusCoba baca sampai akhir mesti beda cerita
Hapus